Home

Senin, 02 Mei 2011

SUKU - BATAK



Suku Batak


Jumlah populasi
k.l 6.000.000 jiwa (Sensus 2000)[1]
Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan
4.827.000

347.000

301.000

275.000

188.000

Bahasa
Agama
Kelompok etnis terdekat
Batak merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia. Nama ini merupakan sebuah terma kolektif untuk mengidentifikasikan beberapa suku bangsa yang bermukim dan berasal dari Tapanuli dan Sumatera Timur, di Sumatera Utara. Suku bangsa yang dikategorikan sebagai Batak adalah: Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailing.
Mayoritas orang Batak menganut agama Kristen dan sisanya beragama Islam. Tetapi ada pula yang menganut agama Malim dan juga menganut kepercayaan animisme (disebut Sipelebegu atau Parbegu), walaupun kini jumlah penganut kedua ajaran ini sudah semakin berkurang.
  •  

 Sejarah

Orang Batak termasuk ras Mongoloid Selatan yang berbahasa Austronesia namun tidak diketahui kapan nenek moyang orang Batak pertama kali bermukim di Tapanuli dan Sumatera Timur. Bahasa dan bukti-bukti arkeologi menunjukkan bahwa orang yang berbahasa Austronesia dari Taiwan telah berpindah ke wilayah Filipina dan Indonesia sekitar 2.500 tahun lalu, yaitu di zaman batu muda (Neolitikum). [2]Karena hingga sekarang belum ada artefak Neolitikum (Zaman Batu Muda) yang ditemukan di wilayah Batak maka dapat diduga bahwa nenek moyang Batak baru bermigrasi ke Sumatra Utara di zaman logam. Pada abad ke-6, pedagang-pedagang Tamil asal India mendirikan kota dagang Barus, di pesisir barat Sumatera Utara. Mereka berdagang kapur Barus yang diusahakan oleh petani-petani di pedalaman. Kapur Barus dari tanah Batak bermutu tinggi sehingga menjadi salah satu komoditas ekspor di samping kemenyan. Pada abad ke-10, Barus diserang oleh Sriwijaya. Hal ini menyebabkan terusirnya pedagang-pedagang Tamil dari pesisir Sumatera[3]. Pada masa-masa berikutnya, perdagangan kapur Barus mulai banyak dikuasai oleh pedagang Minangkabau yang mendirikan koloni di pesisir barat dan timur Sumatera Utara. Koloni-koloni mereka terbentang dari Barus, Sorkam, hingga Natal[4].

Identitas Batak

R.W Liddle mengatakan, bahwa sebelum abad ke-20 di Sumatra bagian utara tidak terdapat kelompok etnis sebagai satuan sosial yang koheren. Menurutnya sampai abad ke-19, interaksi sosial di daerah itu hanya terbatas pada hubungan antar individu, antar kelompok kekerabatan, atau antar kampung. Dan hampir tidak ada kesadaran untuk menjadi bagian dari satuan-satuan sosial dan politik yang lebih besar.[5] Pendapat lain mengemukakan, bahwa munculnya kesadaran mengenai sebuah keluarga besar Batak baru terjadi pada zaman kolonial.[6] Dalam disertasinya J. Pardede mengemukakan bahwa istilah "Tanah Batak" dan "rakyat Batak" diciptakan oleh pihak asing. Sebaliknya, Siti Omas Manurung, seorang istri dari putra pendeta Batak Toba menyatakan, bahwa sebelum kedatangan Belanda, semua orang baik Karo maupun Simalungun mengakui dirinya sebagai Batak, dan Belandalah yang telah membuat terpisahnya kelompok-kelompok tersebut. Sebuah mitos yang memiliki berbagai macam versi menyatakan, bahwa Pusuk Bukit, salah satu puncak di barat Danau Toba, adalah tempat "kelahiran" bangsa Batak. Selain itu mitos-mitos tersebut juga menyatakan bahwa nenek moyang orang Batak berasal dari Samosir.

Terbentuknya masyarakat Batak yang tersusun dari berbagai macam marga, sebagian disebabkan karena adanya migrasi keluarga-keluarga dari wilayah lain di Sumatra. Penelitian penting tentang tradisi Karo dilakukan oleh J.H Neumann, berdasarkan sastra lisan dan transkripsi dua naskah setempat, yaitu Pustaka Kembaren dan Pustaka Ginting. Menurut Pustaka Kembaren, daerah asal marga Kembaren dari Pagaruyung di Minangkabau. Orang Tamil diperkirakan juga menjadi unsur pembentuk masyarakat Karo. Hal ini terlihat dari banyaknya nama marga Karo yang diturunkan dari Bahasa Tamil. Orang-orang Tamil yang menjadi pedagang di pantai barat, lari ke pedalaman Sumatera akibat serangan pasukan Minangkabau yang datang pada abad ke-14 untuk Penyebaran agama

Kabupaten-kabupaten di Sumatera Utara yang diwarnai, memiliki mayoritas penduduk Batak.

Masuknya Islam

Dalam kunjungannya pada tahun 1292, Marco Polo melaporkan bahwa masyarakat Batak sebagai orang-orang "liar yang musyrik" dan tidak pernah terpengaruh oleh agama-agama dari luar. Meskipun Ibn Battuta, mengunjungi Sumatera Utara pada tahun 1345 dan mengislamkan Sultan Al-Malik Al-Dhahir, masyarakat Batak tidak pernah mengenal Islam sebelum disebarkan oleh pedagang Minangkabau. Bersamaan dengan usaha dagangnya, banyak pedagang Minangkabau yang melakukan kawin-mawin dengan perempuan Batak. Hal ini secara perlahan telah meningkatakan pemeluk Islam di tengah-tengah masyarakat Batak.[8] Pada masa Perang Paderi di awal abad ke-19, pasukan Minangkabau menyerang tanah Batak dan melakukan pengislaman besar-besaran atas masyarakat Mandailing dan Angkola. Namun penyerangan Paderi atas wilayah Toba, tidak dapat mengislamkan masyarakat tersebut, yang pada akhirnya mereka menganut agama Kristen Protestan.[9] Kerajaan Aceh di utara, juga banyak berperan dalam mengislamkan masyarakat Karo dan Pakpak. Sementara Simalungun banyak terkena pengaruh Islam dari masyarakat Melayu di pesisir Sumatera Timur

Misionaris Kristen

Pada tahun 1824, dua misionaris Baptist asal Inggris, Richard Burton dan Nathaniel Ward berjalan kaki dari Sibolga menuju pedalaman Batak.[10] Setelah tiga hari berjalan, mereka sampai di dataran tinggi Silindung dan menetap selama dua minggu di pedalaman. Dari penjelajahan ini, mereka melakukan observasi dan pengamatan langsung atas kehidupan masyarakat Batak. Pada tahun 1834, kegiatan ini diikuti oleh Henry Lyman dan Samuel Munson dari Dewan Komisaris Amerika untuk Misi Luar Negeri.[11]
Pada tahun 1850, Dewan Injil Belanda menugaskan Herman Neubronner van der Tuuk untuk menerbitkan buku tata bahasa dan kamus bahasa Batak - Belanda. Hal ini bertujuan untuk memudahkan misi-misi kelompok Kristen Belanda dan Jerman berbicara dengan masyarakat Toba dan Simalungun yang menjadi sasaran pengkristenan mereka.[12].
Misionaris pertama asal Jerman tiba di lembah sekitar Danau Toba pada tahun 1861, dan sebuah misi pengkristenan dijalankan pada tahun 1881 oleh Dr. Ludwig Ingwer Nommensen. Kitab Perjanjian Baru untuk pertama kalinya diterjemahkan ke bahasa Batak Toba oleh Nommensen pada tahun 1869 dan penerjemahan Kitab Perjanjian Lama diselesaikan oleh P. H. Johannsen pada tahun 1891. Teks terjemahan tersebut dicetak dalam huruf latin di Medan pada tahun 1893. Menurut H. O. Voorma, terjemahan ini tidak mudah dibaca, agak kaku, dan terdengar aneh dalam bahasa Batak.[13]
Masyarakat Toba dan Karo menyerap agama Kristen dengan cepat, dan pada awal abad ke-20 telah menjadikan Kristen sebagai identitas budaya[14]. Pada masa ini merupakan periode kebangkitan kolonialisme Hindia-Belanda, dimana banyak orang Batak sudah tidak melakukan perlawanan lagi dengan pemerintahan kolonial. Perlawanan secara gerilya yang dilakukan oleh orang-orang Batak Toba berakhir pada tahun 1907, setelah pemimpin kharismatik mereka, Sisingamangaraja XII wafat.[15]

Gereja HKBP

Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) telah berdiri di Balige pada bulan September 1917. Pada akhir tahun 1920-an, sebuah sekolah perawat memberikan pelatihan perawatan kepada bidan-bidan disana. Kemudian pada tahun 1941, Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) didirikan.[16]

Kepercayaan

Sebelum suku Batak Toba menganut agama Kristen Protestan, mereka mempunyai sistem kepercayaan dan religi tentang Mulajadi Nabolon yang memiliki kekuasaan di atas langit dan pancaran kekuasaan-Nya terwujud dalam Debata Natolu.
Menyangkut jiwa dan roh, suku Batak Toba mengenal tiga konsep, yaitu:
  • Tondi : adalah jiwa atau roh seseorang yang merupakan kekuatan, oleh karena itu tondi memberi nyawa kepada manusia. Tondi di dapat sejak seseorang di dalam kandungan.Bila tondi meninggalkan badan seseorang, maka orang tersebut akan sakit atau meninggal, maka diadakan upacara mangalap (menjemput) tondi dari sombaon yang menawannya.
  • Sahala : adalah jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang. Semua orang memiliki tondi, tetapi tidak semua orang memiliki sahala. Sahala sama dengan sumanta, tuah atau kesaktian yang dimiliki para raja atau hula-hula.
  • Begu : adalah tondi orang telah meninggal, yang tingkah lakunya sama dengan tingkah laku manusia, hanya muncul pada waktu malam.
Demikianlah religi dan kepercayaan suku Batak yang terdapat dalam pustaha. Walaupun sudah menganut agama Kristen dan berpendidikan tinggi, namun orang Batak belum mau meninggalkan religi dan kepercayaan yang sudah tertanam di dalam hati sanubari mereka.

Salam Khas Batak

Tiap puak Batak memiliki salam khasnya masing masing. Meskipun suku Batak terkenal dengan salam Horasnya, namun masih ada dua salam lagi yang kurang populer di masyarakat yakni Mejuah juah dan Njuah juah. Horas sendiri masih memiliki penyebutan masing masing berdasarkan puak yang menggunakannya
1. Pakpak “Njuah-juah Mo Banta Karina!”
2. Karo “Mejuah-juah Kita Krina!”
3. Toba “Horas Jala Gabe Ma Di Hita Saluhutna!”
4. Simalungun “Horas banta Haganupan, Salam Habonaran Do Bona!”

5. Mandailing dan Angkola “Horas Tondi Madingin Pir Ma Tondi Matogu, Sayur Matua Kekerabatan

Kekerabatan adalah menyangkut hubungan hukum antar orang dalam pergaulan hidup. Ada dua bentuk kekerabatan bagi suku Batak, yakni berdasarkan garis keturunan (genealogi) dan berdasarkan sosiologis, sementara kekerabatan teritorial tidak ada.
Bentuk kekerabatan berdasarkan garis keturunan (genealogi) terlihat dari silsilah marga mulai dari Si Raja Batak, dimana semua suku bangsa Batak memiliki marga. Sedangkan kekerabatan berdasarkan sosiologis terjadi melalui perjanjian (padan antar marga tertentu) maupun karena perkawinan. Dalam tradisi Batak, yang menjadi kesatuan Adat adalah ikatan sedarah dalam marga, kemudian Marga. Artinya misalnya Harahap, kesatuan adatnya adalah Marga Harahap vs Marga lainnya. Berhubung bahwa Adat Batak/Tradisi Batak sifatnya dinamis yang seringkali disesuaikan dengan waktu dan tempat berpengaruh terhadap perbedaan corak tradisi antar daerah.
Adanya falsafah dalam perumpamaan dalam bahasa Batak Toba yang berbunyi: Jonok dongan partubu jonokan do dongan parhundul. merupakan suatu filosofi agar kita senantiasa menjaga hubungan baik dengan tetangga, karena merekalah teman terdekat. Namun dalam pelaksanaan adat, yang pertama dicari adalah yang satu marga, walaupun pada dasarnya tetangga tidak boleh dilupakan dalam pelaksanaan Adat.

Falsafah dan sistem kemasyarakatan

Masyarakat Batak memiliki falsafah, azas sekaligus sebagai struktur dan sistem dalam kemasyarakatannya yakni yang dalam Bahasa Batak Toba disebut Dalihan na Tolu. Berikut penyebutan Dalihan Natolu menurut keenam puak Batak
1. Dalihan Na Tolu (Toba) • Somba Marhula-hula • Manat Mardongan Tubu • Elek Marboru
2. Dalian Na Tolu (Mandailing dan Angkola) • Hormat Marmora • Manat Markahanggi • Elek Maranak Boru
3. Tolu Sahundulan (Simalungun) • Martondong Ningon Hormat, Sombah • Marsanina Ningon Pakkei, Manat • Marboru Ningon Elek, Pakkei
4. Rakut Sitelu (Karo) • Nembah Man Kalimbubu • Mehamat Man Sembuyak • Nami-nami Man Anak Beru
5. Daliken Sitelu (Pakpak) • Sembah Merkula-kula • Manat Merdengan Tubuh • Elek Marberru
  • Hulahula/Mora adalah pihak keluarga dari isteri. Hula-hula ini menempati posisi yang paling dihormati dalam pergaulan dan adat-istiadat Batak (semua sub-suku Batak) sehingga kepada semua orang Batak dipesankan harus hormat kepada Hulahula (Somba marhula-hula).
  • Dongan Tubu/Hahanggi disebut juga Dongan Sabutuha adalah saudara laki-laki satu marga. Arti harfiahnya lahir dari perut yang sama. Mereka ini seperti batang pohon yang saling berdekatan, saling menopang, walaupun karena saking dekatnya kadang-kadang saling gesek. Namun, pertikaian tidak membuat hubungan satu marga bisa terpisah. Diumpamakan seperti air yang dibelah dengan pisau, kendati dibelah tetapi tetap bersatu. Namun demikian kepada semua orang Batak (berbudaya Batak) dipesankan harus bijaksana kepada saudara semarga. Diistilahkan, manat mardongan tubu.
  • Boru/Anak Boru adalah pihak keluarga yang mengambil isteri dari suatu marga (keluarga lain). Boru ini menempati posisi paling rendah sebagai 'parhobas' atau pelayan, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun (terutama) dalam setiap upacara adat. Namun walaupun berfungsi sebagai pelayan bukan berarti bisa diperlakukan dengan semena-mena. Melainkan pihak boru harus diambil hatinya, dibujuk, diistilahkan: Elek marboru.
Namun bukan berarti ada kasta dalam sistem kekerabatan Batak. Sistem kekerabatan Dalihan na Tolu adalah bersifat kontekstual. Sesuai konteksnya, semua masyarakat Batak pasti pernah menjadi Hulahula, juga sebagai Dongan Tubu, juga sebagai Boru. Jadi setiap orang harus menempatkan posisinya secara kontekstual.
Sehingga dalam tata kekerabatan, semua orang Batak harus berperilaku 'raja'. Raja dalam tata kekerabatan Batak bukan berarti orang yang berkuasa, tetapi orang yang berperilaku baik sesuai dengan tata krama dalam sistem kekerabatan Batak. Maka dalam setiap pembicaraan adat selalu disebut Raja ni Hulahula, Raja no Dongan Tubu dan Raja ni Boru.

Ritual kanibalisme

Ritual kanibalisme telah terdokumentasi dengan baik di kalangan orang Batak, yang bertujuan untuk memperkuat tondi pemakan itu. Secara khusus, darah, jantung, telapak tangan, dan telapak kaki dianggap sebagai kaya tondi.
Dalam memoir Marco Polo yang sempat datang berekspedisi dipesisir timur Sumatera dari bulan April sampai September 1292, ia menyebutkan bahwa ia berjumpa dengan orang yang menceritakan akan adanya masyarakyat pedalaman yang disebut sebagai "pemakan manusia Dari sumber-sumber sekunder, Marco Polo mencatat cerita tentang ritual kanibalisme di antara masyarakat "Battas". Walau Marco Polo hanya tinggal di wilayah pesisir, dan tidak pernah pergi langsung ke pedalaman untuk memverifikasi cerita tersebut, namun dia bisa menceritakan ritual tersebut.
Niccolò Da Conti (1395-1469), seorang Venesia yang menghabiskan sebagian besar tahun 1421 di Sumatra, dalam perjalanan panjangnya untuk misi perdagangan di Asia Tenggara (1414-1439), mencatat kehidupan masyarakat. Dia menulis sebuah deskripsi singkat tentang penduduk Batak: "Dalam bagian pulau,
Thomas Stamford Raffles pada 1820 mempelajari Batak dan ritual mereka, serta undang-undang mengenai konsumsi daging manusia, menulis secara detail tentang pelanggaran yang dibenarkan Raffles menyatakan bahwa: "Suatu hal yang biasa dimana orang-orang memakan orang tua mereka ketika terlalu tua untuk bekerja, dan untuk kejahatan tertentu penjahat akan dimakan hidup-hidup".. "daging dimakan mentah atau dipanggang, dengan kapur, garam dan sedikit nasi
Para dokter Jerman dan ahli geografi Franz Wilhelm Junghuhn, mengunjungi tanah Batak pada tahun 1840-1841. Junghuhn mengatakan tentang ritual kanibalisme di antara orang Batak (yang ia sebut "Battaer"). Junghuhn menceritakan bagaimana setelah penerbangan berbahaya dan lapar, ia tiba di sebuah desa yang ramah. Makanan yang ditawarkan oleh tuan rumahnya adalah daging dari dua tahanan yang telah disembelih sehari sebelumnya Namun hal ini terkadang dibesar-besarkan dengan maksud menakut-nakuti orang/pihak yang bermaksud menjajah dan/atau sesekali agar mendapatkan pekerjaan yang dibayar baik sebagai tukang pundak bagi pedagang maupun sebagai tentara bayaran bagi suku-suku pesisir yang diganggu oleh bajak laut
Oscar von Kessel mengunjungi Silindung di tahun 1840-an, dan pada tahun 1844 mungkin orang Eropa pertama yang mengamati ritual kanibalisme Batak di mana suatu pezina dihukum dan dimakan hidup. Menariknya, terdapat deskripsi paralel dari Marsden untuk beberapa hal penting, von Kessel menyatakan bahwa kanibalisme dianggap oleh orang Batak sebagai perbuatan berdasarkan hukum dan aplikasinya dibatasi untuk pelanggaran yang sangat sempit yakni pencurian, perzinaan, mata-mata, atau pengkhianatan. Garam, cabe merah, dan lemon harus diberikan oleh keluarga korban sebagai tanda bahwa mereka menerima putusan masyarakat dan tidak memikirkan balas dendam
Ida Pfeiffer mengunjungi Batak pada bulan Agustus 1852, dan meskipun dia tidak mengamati kanibalisme apapun, dia diberitahu bahwa: "Tahanan perang diikat pada sebuah pohon dan dipenggal sekaligus, tetapi darah secara hati-hati diawetkan untuk minuman, dan kadang-kadang dibuat menjadi semacam puding dengan nasi. Tubuh kemudian didistribusikan; telinga, hidung, dan telapak kaki adalah milik eksklusif raja, selain klaim atas sebagian lainnya. Telapak tangan, telapak kaki, daging kepala, jantung, serta hati, dibuat menjadi hidangan khas. Daging pada umumnya dipanggang serta dimakan dengan garam. Para perempuan tidak diizinkan untuk mengambil bagian dalam makan malam publik besar
Pada 1890, pemerintah kolonial Belanda melarang kanibalisme di wilayah kendali mereka Rumor kanibalisme Batak bertahan hingga awal abad ke-20, dan nampaknya kemungkinan bahwa adat tersebut telah jarang dilakukan sejak tahun 1816. Hal ini dikarenakan besarnya pengaruh Islam dalam masyarakat Batak

Tarombo

Silsilah atau Tarombo merupakan suatu hal yang sangat penting bagi orang Batak. Bagi mereka yang tidak mengetahui silsilahnya akan dianggap sebagai orang Batak kesasar (nalilu). Orang Batak khusunya kaum laki-laki diwajibkan mengetahui silsilahnya minimal nenek moyangnya yang menurunkan marganya dan teman semarganya (dongan tubu). Hal ini diperlukan agar mengetahui letak kekerabatannya (partuturanna) dalam suatu klan atau marga.

Kontroversi

Sebagian orang Karo, Angkola, dan Mandailing tidak menyebut dirinya sebagai bagian dari suku Batak. Wacana itu muncul disebabkan karena pada umumnya kategori "Batak" dipandang rendah oleh bangsa-bangsa lain. Selain itu, perbedaan agama juga menyebabkan sebagian orang Tapanuli tidak ingin disebut sebagai Batak. Di pesisir timur laut Sumatera, khususnya di Kota Medan, perpecahan ini sangat terasa. Terutama dalam hal pemilihan pemimpin politik dan perebutan sumber-sumber ekonomi. Sumber lainnya menyatakan kata Batak ini berasal dari rencana Gubernur Jenderal Raffles yang membuat etnik Kristen yang berada antara Kesultanan Aceh dan Kerajaan Islam Minangkabau, di wilayah Barus Pedalaman, yang dinamakan Batak. Generalisasi kata Batak terhadap etnik Mandailing (Angkola) dan Karo, umumnya tak dapat diterima oleh keturunan asli wilayah itu. Demikian juga di Angkola, yang terdapat banyak pengungsi muslim yang berasal dari wilayah sekitar Danau Toba dan Samosir, akibat pelaksanaan dari pembuatan afdeeling Bataklanden oleh pemerintah Hindia Belanda, yang melarang penduduk muslim bermukim di wilayah tersebut.
Konflik terbesar adalah pertentangan antara masyarakat bagian utara Tapanuli dengan selatan Tapanuli, mengenai identitas Batak dan Mandailing. Bagian utara menuntut identitas Batak untuk sebagain besar penduduk Tapanuli, bahkan juga wilayah-wilayah di luarnya. Sedangkan bagian selatan menolak identitas Batak, dengan bertumpu pada unsur-unsur budaya dan sumber-sumber dari Barat. Penolakan masyarakat Mandailing yang tidak ingin disebut sebagai bagian dari etnis Batak, sempat mencuat ke permukaan dalam Kasus Syarikat Tapanuli (1919-1922), Kasus Pekuburan Sungai Mati (1922) dan Kasus Pembentukan Propinsi Tapanuli (2008-2009).
Dalam sensus penduduk tahun 1930 dan 2000, pemerintah mengklasifikasikan Simalungun, Karo, Toba, Mandailing, Pakpak dan Angkola sebagai etnis Batak
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Batak

Selasa, 08 Maret 2011

UMPASABATAK


Falsafah Batak
Dijolo raja sieahan, dipudi raja sipaimaon
(Hormatan do natua-tua dohot angka raja).

Sada silompa gadong dua silompa ubi,
Sada pe namanghatahon Sudema dapotan Uli.

Pitu batu martindi sada do sitaon nadokdok
(Unang maharaphu tu dongan).

Jujur do mula ni bada, bolus do mula ni dame
(Unang sai jujur-jujuri salani dongan, alai bolushon ma).

Siboru buas siboru Bakkara, molo dung puas sae soada mara
(Dame ma).

Sungkunon poda natua-tua, sungkunon gogo naumposo
(Bertanggung-jawab).


UMPASA NI NAPOSO BULUNG. (Buat orang-orang muda)
Jolo tiniktik sanggar laho bahenon huru-huruan,
Jolo sinukkun marga asa binoto partuturan.

Tudia ma luluon da goreng-goreng bahen soban,
Tudia ma luluon da boru Tobing bahen dongan.

Tudia ma luluon da dakka-dakka bahen soban,
Tudia ma luluon da boru Sinaga bahen dongan.

Manuk ni pealangge hotek-hotek laho marpira
Sirang na mar ale-ale, lobianan matean ina.

Silaklak ni dandorung tu dakka ni sila-sila,
Ndang iba jumonok-jonok tu naso oroan niba.

Metmet dope sikkoru da nungga dihandang-handangi,
Metmet dope si boru da nungga ditandang-tandangi.

Torop do bittang di langit, si gara ni api sada do
Torop do si boru nauli, tinodo ni rohakku holoan ho do

Rabba na poso, ndang piga tubuan lata
Hami na poso, ndang piga na umboto hata


UMPASA MANJALO TINTIN MARANGKUP. (Untuk pasangan saat tukar cincin)
Bulung namartampuk, bulung ni simarlasuna,
Nunga hujalo hami tintin marangkup,
Dohonon ma hata pasu-pasuna.
Hot pe jabu i, tong doi margulang-gulang
Sian dia pe mangalap boru bere i, tong doi boru ni Tulang.
Sai tong doi lubang nangpe dihukkupi rere,
Sai tong doi boru ni Tulang, manang boru ni ise pei dialap bere.

Amak do rere, dakka do dupang,
Anak do bere, Amang do Tulang.
Asing do huta Hullang, asing muse do huta Gunung Tua,
Asing do molo tulang, asing muse do molo gabe dung simatua.

UMPASA TU NA BARU MARBAGAS. (Untuk pasangan yang baru menikah)
Dakka ni arirang, peak di tonga onan,
Badan muna naso jadi sirang, tondi mu marsigomgoman.

Giring-giring ma tu gosta-gosta, tu boras ni sikkoru,
Sai tibu ma hamu mangiring-iring, huhut mangompa-ompa anak dohot boru.

Rimbur ni Pakkat tu rimbur ni Hotang,
Sai tudia pe hamu mangalakka, sai tusima hamu dapot pansamotan.
Dekke ni sale-sale, dengke ni Simamora,
Tamba ni nagabe, sai tibu ma hamu mamora.

Sahat-sahat ni solu, sahat ma tu labuan,
Sahat ma hamu leleng mangolu, jala sai di dongani Tuhan.
Sahat solu, sahat di parbinsar ni ari,
Leleng ma hamu mangolu jala di iring-iring Tuhan ganup ari.

Mangula ma pangula, dipasae duhut-duhut
Molo burju marhula-hula, dipadao mara marsundut-sundut.

Ruma ijuk tu ruma gorga,
Sai tubu ma anakmuna na bisuk dohot borumuna na lambok marroha.

Anian ma pagabe tumundalhon sitodoan,
Arimu ma gabe molo marsipaolo-oloan.

Gadu-gadu ni Silindung, tu gadu-gadu ni Sipoholon,
Sai tubu ma anakmuna 17 dohot borumuna 16.

Andor hadukka ma patogu-togu lombu,
Sai sarimatua ma hamu sahat tu na patogu-togu pahoppu. 

UMPASA MANGAMPU
Bulung ni Taen tu bulung ni Tulan
Ba molo tarbahen, sai topot hamu hami sahali sabulan,
Molo so boi bulung ni tulan, pinomat bulung ni salaon,
Ba molo so boi sahali sabulan, pinomat sahali sataon.

Ni durung si Tuma laos dapot Pora-pora.
Molo mamasu-masu hula-hula mangido sian Tuhan,
Napogos hian iba, boi do gabe mamora.

Songgop si Ruba-ruba tu dakka ni Hapadan,
Angka pasu-pasu na ni lehon muna,
Sai dijangkon tondi ma dohot badan.
Mardakka Jabi-jabi, marbulung ia si Tulan
Angka pasu-pasu na pinasahat muna,
Sai sude mai dipasaut Tuhan.

Naung sampulu sada, jumadi sampulu tolu,
Angka pasu-pasu pinasahat muna,
Sai anggiatma padenggan ngolu-ngolu.

Naung sapulu pitu, jumadi sapulu ualu,
Angka pasu-pasu pinasat muna hula-hula nami,
Diampu hami ma di tonga jabu.

Turtu ninna anduhur, tio ninna lote,
Angka pasu-pasu pinasahat muna,
Sai unang ma muba, unang mose.

Habang pidong sibigo, paihut-ihut bulan,
Saluhut angka na tapangido, sai tibu ma dipasaut Tuhan.

Obuk do jambulan, nidandan ni boru Samara
Pasu-pasu na mardongan tangiang sian hula-hula,
Mambahen marsundut-sundut soada mara.

Tinapu bulung nisabi, baen lompan ni pangula
Sahat ma pasu-pasu na nilehon muna i tu hami,
Sai horas ma nang hamu hula-hula.

Suman tu aek natio do hamu, riong-riong di pinggan pasu,
Hula-hula nabasa do hamu, na girgir mamasu-masu.

AKKA UMPASA NA ASING
Martahuak ma manuk di bungkulan ni ruma,
Horas ma hula-hulana,songoni nang akka boruna.

Simbora ma pulguk, pulguk di lage-lage,
Sai mora ma hita luhut, huhut horas jala gabe.

Hariara madungdung, pilo-pilo na maragar,
Sai tading ma na lungun, ro ma na jagar.

Sinuan bulu sibahen na las,
Tabahen uhum mambahen na horas.

Eme ni Simbolon parasaran ni si borok,
Sai horas-horas ma hita on laos Debata ma na marorot.

Sititik ma sigompa, golang-golang pangarahutna,
Tung so sadia pe naeng tarpatupa, sai anggiat ma godang pinasuna.

Pinasa ni Siantar godang rambu-rambuna,
Tung otik pe hatakki, sai godang ma pinasuna.

Tuat si puti, nakkok sideak,
Ia i na ummuli, ima ta pareak.

Aek godang tu aek laut,
Dos ni roha sibaen na saut.

Napuran tano-tano rangging marsiranggongan,
Badan ta i padao-dao, tondita i marsigomgoman.

Marmutik tabu-tabu mandompakhon mataniari,
Sai hot ma di hamu akka pasu-pasu, laho marhajophon akka na sinari.

Bona ni pinasa, hasakkotan ni jomuran,
Tung aha pe dijama hamu, sai tong ma dalan ni pasu-pasu.

Mandurung di aek Sihoru-horu, manjala di aek Sigura-gura,
Udur ma hamu jala leleng mangolu, hipas matua sonang sora mahua.

Dolok ni Simalungun, tu dolok ni Simamora
Salpu ma sian hamu na lungun, sai hatop ma ro si las ni roha.

Rabu, 20 Oktober 2010

Merancang Jenis Kelamin Bayi


JANGAN buru-buru ceraikan pasangan Anda karena dianggap tidak bisa melahirkan anak dengan jenis kelamin tertentu. Menurut dr. Boyke Dian Nugraha, pihak laki-laki lebih menentukan jenis kelamin yang akan dilahirkan seorang ibu. “Wanita itu netral dalam menentukan jenis kelamin bayi,” tambahnya.

Bila ingin merencanakan untuk mempunyai anak berjenis kelamin tertentu, ada sejumlah cara ilmiah yang disarankan dr. Boyke.

Untuk mendapatkan bayi laki-laki :

1. Ayah sebaiknya menjalani tiger diet atau makan banyak daging
2. Ibu sebaiknya banyak mengonsumsi sayur mayur dan buah-buahan
3. Vagina dibasuh dengan air hangat dicampur dengan baking soda 15 menit sebelum berhubungan. Tujuannya adalah menjaga agar daerah vagina bersifat basa.
4. Hubungan seks dianjurkan dilakukan pada masa subur setelah ovulasi terjadi atau hari ke-15 atau ke-16.

Untuk mendapatkan bayi perempuan :
1. Ayah sebaiknya banyak makan sayur mayur dan buah.
2. Ibu sebaiknya banyak mengonsumsi daging.
3. Vagina dibasuh dengan air hangat dicampur dengan cuka dapur 15 menit sebelum berhubungan. Tujuannya adalah menjaga agar daerah vagina bersifat asam.
4. Hubungan seks dianjurkan dilakukan sebelum ovulasi atau hari ke-12 atau ke-13.

RAJA PARMAHAN SILALAHI


Tarombo Raja Bunga-Bunga gelar Raja Parmahan

Berikut ikhtisar asal muasal dan berkembangnya keturunan SILAHISABUNGAN di Balige.
Adapun anak ketiga SILAHISABUNGAN adalah SONDIRAJA mempunyai anak 2 :
3.1 Rumasondi;
3.2 Rumasingap

3.1 Rumasondi memiliki 2 anak :
3.1.1 Bolonraja
3.1.2 Rajabunga-bunga, yang mana dibawa oleh Tuan Sihubil ke balige untuk mendatangkan hujan, yang kemudian diangkat sumpah (padan ni raja) menjadi adik dari Sapalatua Tampuk Nabolon dan menikahi adik istrinya serta diberi lahan serta bukit (dolok) untuk perkampungan yang hingga saat ini masih bernama desa Silalahi dan Pagarbatu serta berada dibawah Dolok Silalahi. Kemudian diberi Gelar RAJA PARMAHAN.



3.1.2 Rajabunga-bunga gelar RAJA PARMAHAN mempunyai 4 anak yang dinamai menyerupai leluhurnya yaitu :
3.1.2.1 Sihaloho
3.1.2.2 Sinagiro (kemudian berketurunankan Naiborhu)
3.1.2.3 Sinabang
3.1.2.4 Sinabutar (kemudian berketurunankan Doloksaribu/Sinurat/Nadadap

Senin, 06 September 2010

DOSINA

RAPOT BOLON TURUNAN RAJA SINABUTAR (Keturunan No.4 Raja Parmahan)

( Doloksaribu – Sinurat – Nadapdap ) - - ( Sinurat - Doloksaribu – Nadapdap)
Ari : Sabtu, Tanggal. 26 Februari 1983 Jam 09.00 Wib (Mulai)
Huta Lumban Nadapdap Sigumpar nadihadiri lobi hurang 150 halak
manang tolu marga marga na tarsurat di ginjang ni suraton.

S I H A T A A N :
I. Manampanghon Tulang Manurung Hutagurgur, Simatua ni Ompu Sinabutar huhut mamboan Sulang sulang ala jumping ma perletakan batu pertama batu ojahan Tugu Ompu Raja Parmahan di Balige.
II. Mangarumushon ise do Siahaan Doloksaribu – Sinurat sian pomparan ni ompu Sinabutar ima anak no.4 sian si Raja Parmahan.

ANGKA SIDOK HATA PABOAHON TURASITURASI :
1. O. Nadapdap (Medan). : Omputta Sinabutar mangalap boru tu boru ni Tulangta Sihahaan Manurung Hutagurgur goarna Sinta Uli boru Manurung (Hutagurgur) sian SIBISA Lumban Julu.
Tanggal 27-2-1983 (Minggu) manggokkon hula-hula Manurung Hutagurgur as aria nasida di ari 3-3-1983 di ulaon peletakan Batu Pertama tambak ni ompu si Raja Parmahan di Balige.
Inganan ni hadomuan ni gomparan ni omputta Sinabutar ima di Lumban Nadapdap Sigumpar selaku tuan rumah ima naung tinontuhon ni turunan ni omputta Sinabutar na tinggal di Medan.
Saut sadarion Punguan on di huta Lumban Nadapdap on sian dos ni roha, turunan ni omputta Sinabutar ima ari Sabtu,tanggal 26-02-1983 sadarion.
Di sude sihataan, naeng ma dibagasan dame na sian Tuhanta, asa saut songon hata ni Natuatua mandok
Silungguk ma Simarata
Disi Pungu Dua Halak Natuatua/Raja
Disido Amanta Debata
Sisada urdot sandaran,satahi saoloan ma hita gomparan ni omputta Sinabutar, mauliate ma di Punguanta.

2 MT.Doloksaribu (Medan). : Mauliate ma di anggi doli Nadapdap di panjalo ni nasida di Omputta Sinabutar sadarion di huta Lumban Nadapdap Sigumpar on.
Keputusan di Medan tanggal.20-2-1983 ima :
a.Pasadahon pendapat unang sai maol hataan ima taringot tu tulangta ima simatua ni omputta Sinabutar, ima tulangta Manurung Hutagurgur (Sihahahan) hutana di Sibisa.
b.Asa denggan ulaon, molo boi naeng ma tota siahaan – sianggian : Doloksaribu dohot Sinurat, alai molo so tota annon, Nadapdap ma mewakili turunan Sinabutar di ulaon peletakan Batu Pertama Tambak ni omputta si Raja Parmahan di Balige.
c.Saut Punguanta sadarion ala dos ni rohanta do, antong Dos ni roha ma ta tahi.
d.Himbauan khusus tu Doloksaribu, marningot ma Poda Sagu-sagu marlangan, asa tongtong ma hita dibagasan dame nasian Amanta Debata asa tio songon baba ni mual, rintar songon boning di gala, Sonang sohariboriboan,Sihataanta marujung dibagasan dame saluhutna.
e.Nadenggan ima tatiop, unang ma naroa manang na hurang i, na gabe parengganghon di hita na marhaha anggi.
f. Soal Siahaan – Sianggian dos doi, asal ma dibagasan dos ni roha. Sian dos ni roha ma hita , unang asal mambuat pasal gae dang dapot kesimpulan.
Mauliate ma di Amanta Debata, mauliate ma di punguanta. Tabatasi diri.

3. Sinurat (Medan). : Mauliate ma di punguanta na samudar, gomparan ni ompu Sinabutar, molo tung adong na berebut-rebutan soal Siahaan,Sianggian naeng ma nian Rintar,Ture,ise Siahaan,ise Sianggian,sian hita nadua asa denggan laho mangadopi pesta Perletakan Batu Pertama ni omputta si Raja parmahan. Nasa bahan – bahan naporlu siboanon tu ulaon na mangihut naeng ma haulion nanaeng dapot ni gomparan ni omputta Sinabutar khususna si Raja Parmahan umumna:
Tujuan : Boi do berbeda pendapat alai dame kesimpulanna,unang mangkorhon tu bada.
Ida hinandenggan ni angka nasarohai ..............
Boi hita marpungu ala dame nasian Tuhanta.
Rencana tambak ni omputta si Raja Parmahan, gomparan ni omputta Sinabutar merupakan membentuk kesimpulan.
Sai boi ma tulus sude na tahatai, molo so boi consensus oi ma muse, alai tatio dame.

4. Hata sian Toba ima sian Pomparan ni omputta Sinabutar :
a.Nadapdap : Setuju pandangan na sian Medan, hatorangan dohot dame i ma tongtong tabahen ojahan ni punguanta
b.Doloksaribu : Satolop isi ni rapot na di Medan, Pos roha Nadapdap patotahon sasude
c.Sinurat : Setuju songon nanidok ni dongan na sian Medan, Tampulon ni sibaganding di dolok ni pangilingan Horas na marhaha anggi,gabe saur massi iringiringan.

MAMILLIT UTUSAN MANDAPOTHON HULAHULA MANURUNG HUTAGURUGUR
TANGGAL 27-2-1983 TEPAT DI ARI MINGGU DI LUMBAN PEA
Hulahula lobi hurang 30 halak sidapothononton, 21 halak ma na laho sian pomparan ni omputta Sinabutar (Ama-Ina) Jam . 13.00 Wib

PENGUMPULAN DATA-DATA SIAN DOLOKSARIBU / SINURAT
Laho patotahon ise Siahaan/Sianggian.
Termin Pertama : 2 halak sian Doloksaribu jala 2 halak sian Sinurat.
a. Sian Doloksaribu : 1. Op. Si Buha
                                 2. A. Ni Marisi

b. Sian Sinurat : 1. Sinurat Sian Medan
                         2. Gr T Sinurat Sian Toba

1. Op. si Buha Doloksaribu : Data-data : Kembar do Doloksaribu dohot Sinurat. Taon 1931-1933 nunga hea pinatoto tarombo di Nagatimbul, batas do Sinurat anggi ni Doloksaribu.
Di angka jou-jou ni pesta pe tongtong do anggi doli dijouhon Doloksaribu, dang hea manjua hata ni Sinurat.
DOSINA = Na pinajempek sian Doloksaribu,Sinurat,Nadapdap.
I pe dang adong SInurat manghaborathon.
Tona / Barita / Sejarah : Sinabutar tu Sibisa dang boi tangkas ianggo hasahatanna, mambuat boru ma tu boru Manurung.
Anak I. Doloksaribu. Asa dibahen goarna ima ala maol dalan ni dalan godang dolok-dolok di dalani ompunta, gabe dibahen ma anak na nasorang i Doloksaribu di paboa tu natorop i.
Anak II. Sinurat. Asa margoar Sinurat, ala tepat manjaha parhaluan ompunta sorang Sinurat,jadi ingkon surathonon ma Sinurat tu parhalaan.
Anak III. Nadapdap. Asa margoar pe on Nadapdap, ala hau dapdap do dibaen parsulusuluan ni Nadapdap

2. A. Ni Marisi Doloksaribu : Ia di Nalela lengkap do turunan ni ompunta Sinabutar,ima Doloksaribu,Sinurat,Nadapdap.
Molo marsiulaon Doloksaribu sahat tu sadarion, tongtong do hujouhon hami jambar tu anggi doli nadua i, ima : Anggi Doli Sinurat dohot Nadapdap.
Jala torus tu sadarion, anggo Sinurat na tinggal di nalela dang hea di dok angina Doloksaribu, tongtong do dijou haha doli tu hami. Alai tingki naparpudion, gabe adong hata sian Sinurat mandok angina Doloksaribu, gabe ima Alana umbaen ampara didok godangan Sinurat tu Doloksaribu.

3. Gr T.Sinurat: Tarombo-tona ni ompu na parjolo I anak ni Sinabutar ima : Sinurat,Doloksaribu,Nadapdap
a. Sinurat ala manurat di parhalaan
b. Doloksaribu ala manuan eme di dolok
c. Nadapdap ala tepat omputta hundul-hundul di toru ni dapdap, sorang anakna di
baen goarna Nadapdap
Sinabutar 2 hali kawin ipe asa tubu Doloksaribu,
Sinurat marharajaon do I dohot di uluan ima Raja Pagi, harajaon nai ma turun te
murun dung harajaon bolanda mansohot ma harajaonnai, Sinurat mamungka huta di harangan Parik,Doloksaribu di Doloksaribu, Nadapdap di Lumban Nadapdap, sude di sibisa . Mulak do muse Doloksaribu tu harangan parik laos disido matua Sinabutar.

Sinurat marpesta Nadapdap manomboli, molo adong mabalu paniaran ni Sinurat, Nadapdap boi do mangkabia dang pola paulak sinamot,dang holan hata-hata Sinurat do Siahaan sian pomparan ni Sinabutar na 3 i, molo adong nahurang lobi,boi do dipadenggan . Tangke do ualang,galingging jala galege….
Palintang ma pagabe ……………………..
Sahat sahat ni solu ……………………….
Mauliate ma

DATA SIAN NADAPDAP DOHOT TURASI-TURASI
Omputta Sinabutar mambuan hadatuon na nilehon ni omputta si Raja Parmahan, najolo omputta Silahisabungan nga hea tu sibisa, ditingkion ma ibana marbagas roha-roha dohot boru ni Nai rasaon
Tona : Ingot hamu Sibisa naung adong hubaen tanda-tanda na , na sahat Sinabutar tu sibisa mangalap boru ma ibana margoar Sinta uli boru Manurung hutagurgur.
Sa ama saina do anak na natoluon, ima Doloksaribu,Sinurat dohot Nadapdap
Doloksaribu marhuta di Doloksaribu
Nadapdap marhuta di Harangan Madua
Sinurat marhuta di Harangan Parik
Boi mangkabia Sinurat tu Nadapdap, sarupa do pandok ni Sinurat

DATA – DATA TERMIN
1.A.ni Binsar Doloksaribu : Hasadaon ni gomparan ni Ompunta Silahisabungan ima na
mangalehon parpadanan tu pinomparna :
a. dengke laean
b. Sagu-sagu marlangan
Patuduhon asa adong hasadaan ni roha na marhaha-maranggi.
Hea do hubege didok Sinurat: Doloksaribu haha ni partubu ,Sinurat anggi ni partubu hahani harajaon.

2.MT. Sinurat : Jumolo mauliate, hasadaan ni roha ma tabuat di pomparan ni Ompu Sina-
butar ,Doloksaribu,Sinurat,Nadapdap. Alana adong dope naringkot sialusanta ima hata ni anggitta Tambunan na mandok :
ia Doloksaribu,Sinurat,Nadapdap ima anak ni Tambun saribu.
Molo adong nahurang masipadengganan tabuatma jalan keluar asa tota ulaonta sahat tu joloanon, unang ma ningku,unang ningku, alai naeng ma ninna, asa dapot sisauduran,saurdot,unang ma nian on sahat tu pomparanta be, naeng ma tapasidung on dibagasan holong dohot dame.

3.A.ni Rian Sinurat : Tona ni natua-tua adongdo raja Hombung mangalap paniaran ni
Doloksaribu, mungkin alani on ma adong Sinurat mandok hahang tu Doloksaribu, angka ompui manonahon Sinurat do haha ni Doloksaribu, alai dame do naringkot songon dia ma keputusan di pertemuanon, satolop ma hita gabe hahana,gabe anggina.

4.Sinurat sian Samosir : Di Balige dibentuk DOSINA dipimpin oleh Alm.A.Doloksaribu,
pegawai pos Balige.disi pe hualo do alani singkatan i, seolah-olah DOloksaribu
sihahaan resmi, hape pintor mate do anak i, nian dang alani nian umbahen namate
ibana.

5.Gr W.Doloksaribu : Manang songon dia anon keputusanna, nanaeng sibahenon ni anggi
tta Nadapdap, disahalahon manang manjomput nasinurat pe, asal ma marujung siahaan sianggian i di hita sadarion. Horas na marhaha maranggi, saur matua massi pairing iringan. Sude Doloksaribu satolop paujunghon soal Siahaan/Sianggian di Doloksaribu dohot Sinurat sadarion.Songon dia keputusan bahenon ni anggi doli Nadapdap satolop ma hami manjalosa, Mauliate

6.Sinurat sian Bona ni Pasogit : Sada ma roha ni Nadapdap mambahen keputusan sadari-
on

7.Sinurat sian Samosir : Satolop ma hami sude Sinurat sian Samosir di keputusan sibahe
non ni anggi doli Nadapdap.

8.Sinurat sian Pangarantoan : nunga satolop Sinurat na sian pangarantoan, manjalo
keputusan sibahenon ni anggi doli Nadapdap sadarion.

9.K E S I M P U L A N :
Sautma bahenon keputusan ise siahaan sianggian sian Doloksaribu/Sinurat na diserahkan tu : Nadapdap
Nunga sude setuju sian Doloksaribu, Sinurat biar pe mewakili sude Marga.

Sian Nadapdap martangiang manonggohon tu amanta Debata, asa dapot patontuhon hasintongan ise Sihahaan-Sianggian sian Doloksaribu dohot Sinurat.

Nadapdap mangutus : O.SI MARAP NADAPDAP : sian Sigumpar manangianghon huhut mangido sahala sian angka ompu Sinabutar asa diatur anak na : Doloksaribu-Sinurat i , ise Sihahaan dohot Sianggian.

DIBAGASAN TANGIANG / TONGGOTONGGO I DO LANGSUNG DIPATUBEGEHON SAHALA NI OMPU NA PARJOLOI : SINURAT DO SIANGGIAN , Ima isi ni tangiang i dibagasan las ni roha.
Songon i ma keputusan na hubahen hami di tingki i sesuai tu nasinahalahon ni natuatuai, op si Marap Nadapdap disaksihon sude marga Nadapdap na hadir di tingki i laho patotahon parhaha maranggion di Doloksaribu/Sinurat, laos ima keputusan tu jolo na tolu marga on : 1. Doloksaribu (Sihahaan)
2. Sinurat (Sibitonga)
3. Nadapdap (Siampudan)

Pembukaan Pengumuman sian protokol Gr.M Nadapdap:
Sian hata ni Tuhanta namandok : Sidok mauliate ma hamu siala saluhutna

Ari on nijadihon ni Jahowa
Marolop olop ma hami disi

Umpama : Hariara bonana,hariara rantingna,rugun bulungna
Gabe ma hahana , gabe anggina torop dohot boruna.


JADI NUNGA RESMI : DOLOKSARIBU SIHAHAAN, SIBITONGA SINURAT, SIAMPUDAN NADAPDAP ANAK NI SINABUTAR. Sude mandok Horaaaaaaaas

10.PENUTUP.......... Punguan ditutup dohot Tangiang ni uluhon ni Gr.Oberlin Nadapdap
Sidung tangiang, massi jalangan, Selamat jalan/Selamat tinggal.

Acara ditutup jam 21.00 Wib di huta Lumban Nadapdap,Sigumpar kecamatan Silaen Kabupaten Tapanuli Utara,Sumatra Utara.

Sigumpar, 26-2-1983

Penulis/Protokol


T t d



(Gr.M Nadapdap)

Nb. Diketik sesuai dengan teks asli

Rabu, 04 Agustus 2010

Keturunan Silahisabungan

Data yang dikumpulkan dari berbagai buku maupun turi-turian, bahwa Raja Silahisabungan mempunyai 2(dua) isteri.

Isteri pertama adalah Pinggan Matio boru Padang Batanghari dan bermukim di Silalahi Nabolak dan isteri kedua adalah Milingiling boru Mangarerak.

Dari boru Pinggan Matio, Raja Silahisabungan memiliki tujuh (7) putra dan satu (1) putri. Sedangkan dari boru Milingiling, Silahisabungan memiliki seorang putra. Kedelapan putra Raja Silahisabungan dan seorang putri tsb secara singkat dapat dijelaskan spt dibawah ini.

Dari isteri pertama lahir sbb:

1. Haloho (Loho Raja)
2. Tungkir (Tungkir Raja)
3. Rumasondi (Sondi Raja)
4. Dabutar (Butar Raja)
5. Dabariba (Bariba Raja)
6. Debang (Debang Raja)
7. Pintubatu (Batu Raja)
8. Siboru Deang Namora.

Dari isteri kedua lahir satu putra yaitu:

1. Tambun(Tambun Raja)

1. Haloho (Loho Raja) menikah dengan boru tulangnya Rumbani boru Padang Batanghari dan bermukim di Silalahi nabolak.Keturunannya sebagian pindah ke Paropo, Tolping, Pangururan, Parbaba. Haloho memiliki 3 putra yaitu : Sinaborno, Sinapuran, dan Sinapitu. Pada umumnya keturunannya memakai marga Sihaloho, dan hingga dewasa ini belum ada cabang marga ini.

2. Tungkir (Tungkir Raja) menikah dengan Pinggan Haomasan boru Situmorang dan bermukim juga di Silalahi Nabolak. Pasangan ini juga memiliki 3 putra yaitu : Sibagasan, Sipakpahan dan Sipangkar. Keturunannya pada umumnya memakai marga Situngkir terutama Sibagasan dan Sipakpahan, sedangkan keturunan Sipangkar sebagian besar telah memakai Sipangkar sebagai marga.

3. Rumasondi (Sondi Raja) menikah dengan Nagok boru Purba Siboro. Pasangan ini juga bermukim di Silalahi Nabolak. Keturunannya yaitu Rumasingap membuka perkampungan di Paropo.Rumasondi memiliki putra sbb : Rumasondi, Rumasingap, dan Rumabolon. Umumnya keturunannya memakai marga Rumasondi dan sebagaian memakai marga Silalahi (di Balige) dan bahkan Rumasingap juga dipakai sebagai cabang marga. Demikian juga Doloksaribu, Nadapdap, Naiborhu, Sinurat, telah digunakan sebagai cabang marga dan masuk rumpun marga Rumasondi.

4. Dabutar (Butar Raja) menikah dengan Lagumora Sagala. Mereka juga tinggal di Silalahi Nabolak. Dabutar ini mempunyai tiga putra yaitu : Rumabolon, Ambuyak, dan Rumatungkup. Umumnya keturunannya memakai marga Sinabutar atau Sinamutar bahkan Sidabutar.

5. Dabariba Raja (Baba Raja) menikah dengan Sahat Uli boru Sagala. Mereka bermukim di Silalahi Nabolak. Keturunannya memakai marga Sidabariba atau Sinabariba. Putrranya berjumlah tiga yaitu : Sidabariba Lumbantonga, Sidabariba Lumbandolok, Sidabariba Toruan. Mereka ini pada umumnya memakai marga Sidabariba.

6. Debang (Debang Raja) menikah dengan Panamenan boru Sagala, juga bermukim di Silalahi Nabolak. Keturunannya sebagaian menyebar ke Paropo. Debang Raja mempunyai 3 putra : Parsidung, Siari dan Sitao. Umumnya keturunannya memakai marga Sidebang atau Sinabang.

7. Pintu Batu (Batu Raja) menikah dengan Bunga Pandan boru Sinaga, juga tinggal di Silalahi Nabolak. Memiliki 3 putra yaitu : Hutabalian, Lumbanpea, Sigiro. Keturunannya menggunakan marga Pintu Batu, tetapi keturunan Sigiro sebagian memakai marga Sigiro.

8. Tambun (Tambun Raja) adalah putra Raja Silahisabungan dari si boru Milingiling. Ketika masih remaja, Tambun meninggalkan Silalahi Nabolak menemui ibu kandungnya di Sibisa Uluan. Tambun menikah dengan Pinta Omas boru Manurung dan bermukim di Sibisa. Dari Sibisa keturunannya berserak ke Huta Silombu, Huta Tambunan dan Sigotom Pangaribuan. Putra raja Tambun berjumlah tiga orang yaitu : Tambun Mulia, Tambun Saribu, Tambun Marbun. Umumnya keturunannya memakai marga Tambun dan Tambunan, bahkan di antaranya memakai marga Baruara, Pagaraji, Ujung Sunge.

Di samping marga-marga yang disebut di atas, anak-anak Raja Silahisabungan dari isteri pertama memakai marga Silalahi. Sedangkan keturunan Tambun tetap menggunakan marga Tambun (oleh keturunan Tambun Uluan) atau Tambunan (oleh keturunan Tambun Koling).

Senin, 02 Agustus 2010

Hidup adalah Anugrah


Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya sendiri karena kebutaan yang dimilikinya. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya.Kekasihn ya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya.
Dia berkata akan menikahi kekasihnya hanya jika dia bisa melihat dunia.Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepadanya, sehingga dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasihnya.
Kekasihnya bertanya, "Sekarang kamu bisa melihat dunia. Apakah kamu mau menikah denganku?" Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya ternyata buta.
Dia menolak untuk menikah dengannya.

Kekasihnya pergi dengan air mata mengalir, kemudian menulis sepucuk surat singkat kepada gadis itu, "Sayangku, tolong jaga baik-baik mata saya".

Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah . Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.

Hidup adalah Anugerah.
Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar.Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.

Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu.Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

Sebelum engkau mengeluh tentang isterimu atau suamimu.Ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan yang telah kehilangan pasangan hidupnya.

Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu.Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi ke surga.

Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu. Ingatlah akan seseorang yang begitu mengharapkan kehadiran seorang anak, tetapi tidak mendapatkannya.

Sebelum engkau bertengkar karena rumahmu yang kotor, dan tidak ada yang membersihkan atau menyapu lantaiIngatlah akan orang gelandangan yang tinggal di jalanan.

Sebelum merengek karena harus menyopir terlalu jauhIngatlah akan seseorang yang harus berjalan kaki untuk menempuh jarak yang sama.
Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmuIngatlah akan para penganguran, orang cacat dan mereka yang menginginkan pekerjaanmu.

Sebelum engkau menuding atau menyalahkan orang lainIngatlah bahwa tidak ada seorang pun yang tidak berdosa dan kita harus menghadap pengadilan Tuhan.
Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu
Pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini.